Categories

Rabu, 13 Oktober 2010

METODE PEMAHAMAN ISLAM DI INDONESIA


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam merupakan agama yang sangat komplek. Sehingga dalam memahaminya pun dibutuhkan cara yang tepat agar dapat tercapai suatu pemahaman yang utuh tentang Islam. Di Indonesia sejak Islam masuk pertama kali sampai saat ini telah timbul berbagai macam pemahaman yang berbeda mengenai Islam. Sehingga dibutuhkanlah penguasaan tentang cara-cara yang digunakan dalam memahami Islam.
Maka, dalam makalah ini penulis akan mencoba membahas mengenai metodologi serta beberapa hal yang berkaitan untuk memahami Islam di Indonesia.



B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, penulis merumuskan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
1. Apakah metodologi itu?
2. Bagaimana keadaan Islam di Indonesia?
3. Bagaimanakah studi tentang Islam?
4. Metode-metode apa saja yang dapat digunakan dalam memahami Islam?

II. PEMBAHASAN
A. Metodologi
1. Pengertian metodologi
Metodologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu metodos berarti cara atau jalan dan logos yang berarti ilmu. Dari kedua suku kata itu, metodologi berarti ilmu tentang jalan atau cara. Untuk memudahkan pemahaman tentang metodologi, terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian metode. Dalam KBBI disebutkan bahwa metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Dari definisi diatas dapat dikatakan bahwa metode adalah urutan kerja yang sistematis, terencana, dan merupakan hasil eksperimen ilmiah guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Lalu, yang dimaksud metodologi sendiri berarti ilmu tentang cara-cara untuk sampai pada tujuan. Menurut Hasan Langgulung, metodologi adalah cara-cara yang digunakan manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran. Metodologi disebut pula sebagai science of methods yaitu ilmu yang membicarakan cara, jalan, atau petunjuk praktis dalam penelitian, sehingga metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode. Dalam metodologi dibicarakan tentang cara kerja ilmu pengetahuan. Bila dalam metode tidak ada perdebatan, refleksi, dan kajian atas cara kerja ilmu pengetahuan, sebaliknya dalam metodologi terbuka luas untuk mengkaji, mendebat, dan merefleksi cara kerja suatu ilmu.
2. Kegunaan metodologi
Islam merupakan agama yang untuk memahaminya secara utuh, harus dilihat dari berbagai dimensi. Di Indonesia yang terdiri dari berbagai kebudayan dan berbagai kepentingan, Islam dipahami sesuai dengan kepentingan masing-masing pihak. Sehingga terkesan bahwa pemahaman Islam yang terjadi di masyarakat masih bercorak parsial, belum utuh dan belum pula komprehensif. Dan sekalipun dijumpai adanya pemahaman Islam yang utuh dan komprehensif, namun hal itu belum tersosialisasikan secara merata ke seluruh masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan metodologi yang di dalamnya dibahas mengenai berbagai macam metode yang bisa digunakan dalam studi Islam. Agar studi Islam dapat tersusun secara sistematik dan disampaikan menurut prinsip, pendekatan dan metode yang baik dan untuk membuat Islam lebih responsive dan fungsional dalam memandu perjalanan umat serta menjawab berbagai masalah yang dihadapi saat ini, diperlukan metode yang dapat menghasilkan pemahaman Islam yang utuh dan komprehensif. Dalam hal ini, Mukti Ali pernah mengatakan bahwa metodologi adalah masalah yang sangat penting dalam pertumbuhan ilmu.
Ibarat akan pergi ke Jakarta dan berangkat dari Yogyakarta, maka metodologi merupakan kajian atas cara-cara yang bisa digunakan seperti naik sepeda motor, bus, kereta, ataupun pesawat terbang. Bila dihubungkan dengan studi Islam, metodologi merupakan kajian tentang metode-metode yang dapat digunakan untuk melaksanakan studi Islam.
Penguasaan terhadap metode sangatlah penting artinya dalam studi Islam. Kita dapat belajar banyak dari pengalaman keberhasilan penguasaan metode dan metodologi. Misalnya pada abad ke 4 dan ke 5 SM, banyak pemikir jenius yang tidak bisa dibandingkan dengan orang-orang jenius abad 14, 15, dan 16 M. Aristoteles (384-322 SM), kata Mukti Ali, jauh lebih jenius dari Roger Bacon (214-294). Apa yang menyebabkan Bacon menjadi faktor dalam kemajuan sains, sekalipun tingkat kejeniusannya di bawah Aristoteles dan Plato? Sebabnya karena Bacon menemukan metode berfikir yang benar, yang dengan metode itu sekalipun kejeniusannya biasa saja ia dapat menemukan kebenaran sebagai pemikir jenius yang besar. Apabila tidak mengetahui metode yang benar dalam melihat sesuatu dan memikirkan masalah-masalahnya, maka mereka tidak dapat memanfaatkan kejeniusannya.
Dengan demikian, pemahaman mengenai metode yang tepat akan membawa studi Islam menjadi lebih memadai dan lebih dapat menghasilkan yang lebih baik. Sehingga, penguasaan terhadap metodologi harus ditekankan tanpa melupakan aspek penguasaan materi.


B. Islam dan Kebudayaan Indonesia
Jika berbicara masalah metodologi pemahaman Islam di Indonesia, tentu hal itu tidak mungkin terlepas dari sejarah pertama kali Islam masuk di Indonesia. Namun, kaitanya dalam sub bab ini, kita akan sedikit berbicara persoalan Islam dan kebudayaan di Indonesia saja. Kenapa harus kebudayan? Sebab, ketika kita berbicara tentang pemahaman Islam, terutama di Indonesia, maka sedikit banyak kita juga akan bersinggungan dengan budaya yang ada di Indonesia. Namun, dalam makalah ini hanya akan diurai sedikit tentang kebudayaan Jawa dan Melayu.
Implikasi dari masuknya Islam di Indonesia, setidaknya menyebabkan Indonesia mengalami dualisme kebudayaan. Yaitu kebudayaan keraton dan kebudayaan popular. Dua jenis kebudayaan ini sering kali dikategorikan sebagai kebudayaan tradisional. Pada dua jenis kebudayaan inilah pengaruh Islam terlihat begitu signifikan. Untuk lebih jelasnya, kita akan membahas pengaruh Islam terhadap kedua kebudayaan tersebut.
Pertama, adalah kebudayaan keraton. Yaitu kebudayaan yang dikembangkan oleh para abdi dalem atau para pegawai istana. Mulai dari para pujangga sampai arsitek. Pada ranah ini sang raja memiliki kepentingan menciptakan simbol-simbol budaya tertentu untuk melestarikan kekuasaannya. Biasanya bentuk-bentuk kebudayaan yang diciptakannya itu berupa mitos. Hampir semua mitos berisi tentang kesaktian raja, kesucian, atau superinsani raja.
Efek yang ingin dicapai dari penciptaan mitos tersebut adalah agar rakyat loyal terhadap kekuasaan raja. Sebagai contoh dalam babad Jawa digambarkan bahwa raja adalah pemegang wahyu yang dengannya ia merasa sah untuk mengklaim dirinya sebagai wakil Tuhan untuk memerintah rakyatnya.
Meskipun dalam keraton terdapat pengaruh Hinduisme, tetapi Islam pun cukup berpengaruh. Misalnya, klaim raja di Jawa untuk melegitimasikan kekuasaanya. Di satu sisi, ia menentukan silsilah yang menyatakan bahwa dirinya keturunan para dewa (Hinduisme), tetapi di sisi lain, ia juga mengaku sebagai keturunan para nabi (Islam).
Konsep kekuasaan Islam sungguh memiliki perbedaan yang jauh dengan konsep kekuasaan Jawa. Dalm kekuasaan Jawa, dikenal konsep raja absolute, Islam justru mengutamakan konsep Raja adil (al-Malik al-‘Adil). Akan tetapi, suatu hal yang perlu diketahui bahwa budaya keraton di luar Jawa punya konsep yang berbeda dengan konsep kebudayaan Jawa. Di Aceh misalnya, raja memiliki sebutan al-Malik al-‘adil.
Kedua, adalah kebudayaan popular. Yaitu kebudayaan yang tidak dikembangkan dalam kereton. Namun, dalam kebudayaan popular juga sama terdapat mitos seperti pada kebudayaan kereton. Umpamanya, cerita Walisongo di pantai utara Jawa begitu terkenal. Karena kuatnya mitos yang terbangun, hingga sekarang ini kita mendengar adanya kiai sakti yang bias melakukan salat di Makkah setiap waktu, dan dalam waktu sekejap ia kembali ke pesantrennya. Begitu juga cerita tentang kiai yang berkhotbah dalam dua tempat pada waktu yang bersamaan. Pengaruh Islam dalam kebudayan dapat dilihat pada ekspresi ritual seperti upacara “pengiwahan”; agar manusia menjadi mulia (wiwoho), diadakanlah upacara kelahiran, perkawinan, dan kematian. Selain itu, budaya Islami dapat dilihat dalam acara mauled, seni musik Qosidah dan gambus.
Selanjutnya, pengaruh Islam dalam budaya Melayu di Sulawesi Selatan antara lain tergambar dalam sulapa eppa’e. dimana dalam sulapa eppa’e dijelaskan tentang ajaran kepemimpinan. Seorang pemimpin akan sukses apabila memiliki watak dan sifat jujur, bijaksana, sabar, berani, ilmuwan, dan hartawan. Sahabat yang termasuk khulafaur rasyidin merupakan gambaran dari sifat-sifat tersebut. Abu Bakar al-Shidiq adalah simbol kejujuran, kebijaksanaan dan kesabaran; Umar bin Khathab adalah symbol keberanian dan keadilan; Ali bin Abi Thalib adalah symbol ilmuwan; dan Utsman bin Affan adalah symbol hartawan.
Tgk. H. Muslim Ibrahim menjelaskan sistem kesenian di Aceh. Menurutnya, hubungan antara seni, moral dan syari’at dalam Islam sangat erat karena seni berawal dari habl min Allah dan habl min al-nas. Oleh karena itu, kesenianAceh telah terpadu dengan Islam dan terwujud dalam berbagai cabang; sastra, seni tari, seni bangunan, dan seni pahat.
Itulah akulturasi Islam dengan kebudayaan Indonesia yang didominasi oleh kebudayaan Melayu dan Jawa. Budaya Melayu lebih mudah menerima Islam, sedangkan budaya Jawa tidak. Budaya keraton Jawa yang mewarisi tradisi Hindu-Budha berintegrasi dengan budaya Islam sehingga para abdi dalem membuat suatu silsilah yang membuktikan bahwa raja adalah keturunan para dewa di satu sisi, di sisi lain mereka juga mengaku keturunan para nabi. Lebih dari itu, raja di Jawa ada yang mengaku sebagai wakil Tuhan untuk menanamkan loyalitas rakyat kepadanya dan mempertahankan status quo.

C. Studi Islam
Masih terdapat perdebatan di kalangan para ahli apakah studi Islam dapat dimasukkan ke dalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat sifat-sifat dan karakteristik antara ilmu pengetahuan dan agama berbeda. Pembahasan di sekitar masalh ini banyak dikemukakan oleh para pemikir Islam belakangan ini. Amin Abdullah, misalnya mengataan jika penyelenggaraan dan penyampaian studi Islam hanya mendengarkan dakwah keagamaan di dalam kelas lalu apa bedanya dengan kegiatan pengajian dan dakwah yang sudah ramai diselenggarakan di luar bangku kuliah? Sehingga menurut Amin Abdullah, pangkal tolak kesulitan pengembangan scope wilayah kajian studi Islam berakar pada kesukaran seorang agamawan untuk membedakan antara yang normativitas dan historisitas. Pada dataran normativitas kelihatan Islam kurang pas untuk dikatakan sebagai disiplin ilmu, sedangkan untuk dataran historisitas tampaknya tidaklah salah.
Dengan demikian secara sederhana dapat dikatakan bahwa dari segi normatif sebagaimana yang terdapat di dalam Alquran dan hadis, maka Islam lebih merupakan agama yang tidak dapat diberlakukan kepadanya paradigma ilmu pengetahuan, yaitu pradigma analitis, kritis, metodologis, historis, dan empiris. Sebagai agama, Islam lebih bersifat memihak, romantis, apologis, dan subjektif, sedangkan jika dilihat dari segi historis, yakni Islam dalam arti yang dipraktikkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka Islam dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, yakni ilmu keislaman atau Islamic Studies
Perbedaan dalam melihat Islam yang demikian itu dapat menimbulkan perbedaan dalam menjelaskan Islam itu sendiri. Ketika Islam dilihat dari sudut normatif, Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan dengan urusan akidah dan muamalah sedangkan ketika Islam dilihat dari sudut historis atau sebagaimana yang tampak dalam Islam tampil sebagai sebuah disiplin ilmu (Islamic Studies).
Studi Islam sangat penting karena sangat berperan dalam masyarakat. Studi Islam bertujuan untuk mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat inter dan antar agama. Adapun perubahan yang diharapkan adalah formalisme kepahaman menjadi sebuah substantif keagamaan dan sikap enklusifisme menjadi sikap universalisme.
Secara garis besar, tujuan studi Islam adalah; pertama, mempelajari secara mendalam tentang hakikat Islam, bagaimana posisinya dengan agama lain, dan bagaimana hubungannya dengan dinamika perkembangan yang terus berlangsung.
Agama Islam diturunkan oleh Allah dengan tumuan untuk membimbing, mengarahkan, dan menyempurnakan pertumbuhan dan perkembangan agama-agama dan budaya umat manusia. Agama-agama dan budaya yang pada awalnya hanya berdasarkan kepada daya nalar dan tidak sedikit yang mengarah pada penyimpangan, diarahkan oleh Islam menjadi agama monoteisme yang benar. Namun demikian bukan berarti agama Islam tidak sesuai dengan akal budi. Justru dalam memberikan kesempatan secara luas kepada manusia untuk mendayagunakan akal budinya secara maksimal, namun jangan sampai penggunaannya melampaui batas dan keluar dari rambu-rambu ajaran Allah.
Kedua, mempelajari secara mendalam terhadap sumber dasar ajaran agama Islam yang tetap abadi dan dinamis serta aktualisasinya sepanjang sejarah. Studi ini berdasar kepada asumsi bahwa agama Islam adalah agama samawi terakhir yang membawa ajaran yang bersifat final, mampu memecahkan persoalan kehidupan manusia, menjawab tantangan, dan senantiasa actual sepanjang masa. Namun demikian, aktualitas ajaran ini sering harus berhadapan dengan beraneka ragam permasalahan dan tantangan yang tidak kecil dan ringan. Pada kondisi semacam ini, studi Islam berusaha untuk memberikan kontribusinya dalam menjawab aneka persoalan dan tantangan yang ada.
Ketiga, mempelajari secara mendalam terhadap pokok isi ajaran Islam yang asli, dan bagaimana operasionalisasi dalam pertumbuhan budaya dan peradaban Islam sepanjang sejarah.
Keempat, mempelajari secara mendalam terhadap prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran Islam dan bagaimana perwujudannya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini.

D. Metode Memahami Islam
Studi Islam tidak dapat dilakukan apabila Islam tidak dipahami secara menyeluruh. Menurut Nasruddin Razaq dalam Ali Anwar Yusuf, memahami Islam secara menyeluruh sangat penting walaupun tidak mendetail. Untuk itu, diperlukan pedoman-pedoman yang dapat dijadikan sandaran, patokan atau petunjuk dalam memahami Islam secara baik dan benar. Pedoman-pedoman tersebut mencakup :
Pertama, Islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli, yaitu Alquran dan Sunnah Rasul, kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris, dan sosiologis yang ada di masyarakat. Kekeliruan dalam memahami Islam dapat terjadi karena orang hanya mengenalnya dari sebagian ulama dan pemeluknya yang telah jauh dari bimbingan Alquran dan as-Sunnah, atau melalui pengenalan dari kitab-kitab fiqih dan tasawuf . mempelajari Islam dengan cara demikian akan menjadikan orang tersebut sebagai pemeluk Islam yang sinkretisme yang telah tercampuri oleh hal-hal yang tidak Islami.
Kedua, Islam harus dipelajari secara integral, tidak secara parsial atau terpisah-pisah. Artinya Islam dipelajari secara menyeluruh sebagai satu kesatuan yang utuh tidak secara sebagian saja. Sebab dengan memahami secara parsial akan menimbulkan skeptis, bimbang dan penuh keraguan.
Ketiga, Islam perlu dipelajari dari kepustakaan atau literatur yang ditulis oleh para ulama besar atau para sarjana yang benar-benar memiliki pemahaman Islam yang baik. Berkaitan dengan yang ketiga ini, timbul permasalahan dalam literature yang ditulis oleh kaum orientalis. Karena bagi mereka, Islam hanya sekedar dipahami yang kemudian dicari-cari kelemahannya. Berkenaan dengan hal tersebut, seseorang yang mempelajari Islam hendaklah bersikap kritis, selektif, dan penuh kehati-hatian serta telah kuat dalam memahami dan menjalankan dasar-dasar keislamannya.
Keempat, kesalahan sementara orang mempelajari Islam adalah dengan jalan mempelajari kenyataan umat Islam sendiri, bukan agamanya. Sikap konservatif sebagian golongan Islam, keawaman, kebodohan, dan keterbelakangan itulah yang dinilai sebagai Islam. Padahal yang sebenarnya tidak demikian, Islam mengajarkan kesatuan dan persatuan, kebersamaan, saling menolong, dan saling mengasihi.
Selanjutnya, Abuddin Nata menyatakan, dalam buku berjudul Tentang Sosiologi Islam karya Ali Syari’ati dijumpai uraian singkat mengenai metode memahami yang pada intinya Islam harus dilihat dari berbagai dimensi. Apabila Islam ditinjau dari satu sudut pandang saja, maka yang akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang sebenarnya bersegi banyak. Sehingga mengakibatkan kesulitan dalam pemahaman secara keseluruhan. Buktinya ialah Alquran. Kitab ini memiliki banyak dimensi. Satu dimensi misalnya, mengandung aspek-aspek linguistic dan sastra. Dimensi lain terdiri atas tema-tema filosofis dan keimanan. Alquran mengajak kita memahami Islam secara komprehensif. Berbagai aspek yang ada dalam Alquran jika dipahami secara keseluruhan akan menghasilkan pemahaman Islam yang menyeluruh.
Ali Syari’ati lebih lanjut menyatakan, ada berbagai cara dalam memahami Islam melalui metode perbandingan, yaitu :
1. Mengenal Allah dan membandingkan-Nya dengan sesembahan agama-agama lain.
2. Mempelajari kitab Alquran dan membandingkannya dengan kitab-kitab ajaran agama lainnya
3. Mempelajari kepribadian Rasulullah dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh besar pembaruan yang pernah hidup dalam sejarah.
4. Mempelajari tokoh-tokoh Islam terkemuka dan membandingkannya dengan tokoh-tokoh utama agama maupun aliran-aliran lain.
Selain menggunakan pendekatan perbandingan, ada cara lain dalam memahami Islam, yaitu dengan menggunakan pendekatan aliran. Pemahaman dengan pendekatan aliran menitik beratkan pada pemahaman Islam sebagai aliran pemikiran yang membangkitkan kehidupan manusia perseorangan maupun masyarakat.
Menurut Mukti Ali, terdapat metode lain dalam memahami Islam yaitu metode tipologi. Metode ini oleh banyak ahli sosiologi dianggap objektif, berisi klasifikasi topik dan tema yang mempunyai tipe yang sama. Terdapat lima aspek atau ciri dari agama Islam, yaitu 1) aspek ketuhanan, 2) aspek kenabian, 3) aspek kitab suci, 4) aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang-orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.
Dari uraian-uraian di atas, secara garis besar ada dua macam metode untuk memahami Islam. Pertama, metode komparasi, yaitu suatu cara memahami agama dengan membandingkan seluruh aspek yang ada dalam agama Islam tersebut dengan agama lainnya, dengan cara demikian akan dihasilkan pemahaman Islam yang objektif dan utuh. Kedua, metode sintesis, yaitu suatu cara memahami Islam yang memadukan antara metode ilmiah dengan segala cirinya yang rasional, objektif, kritis, dengan metode teologis normative. Metode ilmiah digunakan untuk memahami Islam yang tampak dalam kenyataan historis, empiris, dan sosiologis, sedangkan metode teologis normative digunakan untuk memahami Islam yang terkandung dalam kitab suci. Melalui metode teologis normative ini seseorang memulainya dengan memahami Islam sebagai agama yang mutlak benar. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat agama sebagaimana norma ajaran yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan manusia yang secara keseluruhan diyakini amat ideal. Melalui metode teologis normative yang tergolong tua usianya ini dapat dihasilkan keyakinan dan kecintaan yang kuat, kokoh, dan militant pada Islam, sedangkan dengan metode ilmiah yang tergolong muda usianya ini dapat dihasilkan kemampuan menerapkan Islam yang diyakini dan dicintainya itu dalam kenyataan hidup serta memberi jawaban terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi manusia.
Sedangkan menurut Ali Anwar Yusuf dalam bukunya Studi Agama Islam, terdapat tiga metode dalam memahami agama Islam , yaitu:
1. Metode Filosofis
Filsafat adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membahas segala sesuatu dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan sedalam-dalamnya sejauh jangkauan kemampuan akal manusia, kemudian berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal dengan meneliti akar permasalahannya. Memahami Islam melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengalaman agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan tidak memiliki makna apa-apa atau kosong tanpa arti. Namun bukan pula menafikan atau menyepelekan bentuk ibadah formal, tetapi ketika dia melaksanakan ibadah formal disertai dengan penjiwaan dan penghayatan terhadap maksud dan tujuan melaksanakan ibadah tersebut.
2. Metode Historis
Metode historis ini sangat diperlukan untuk memahami Islam, karena Islam itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan sangat berhubungan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Melalui metode sejarah, seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya dan hubungannya dengan terjadinya suatu peristiwa.
3. Metode Teologi
Metode teologi dalam memahami Islam dapat diartikan sebagai upaya memahami Islam dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari satu keyakinan. Bentuk metode ini selanjutnya berkaitan dengan pendekatan normatif, yaitu suatu pendekatan yang memandang Islam dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Allah yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia.

III. KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Metodologi berarti ilmu tentang cara-cara untuk sampai pada tujuan.
2. Metodologi dalam hal pemahaman Islam digunakan untuk mengetahui metode-metode yang tepat agar dapat diperoleh hasil yang utuh dan objektif dalam pemahaman Islam.
3. Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan budaya menyebabkan Islam dipahami sesuai dasar keyakinan masyarakatnya.
4. Studi Islam sangat penting karena sangat berperan dalam masyarakat. Studi Islam bertujuan untuk mengubah pemahaman dan penghayatan keislaman masyarakat inter dan antar agama.
5. Dalam memahami Islam dapat digunakan beberapa metode, di antaranya metode filosofis, historis, dan teologis.

IV. PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami sampaiakan kurang lebihnya mohon dimaafkan, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan, jika ada kesalahan mohon di ingatkan dan dibenarkan, sebagai perbaikan kami ke depan. Semoga apa yang tertera dalam makalah ini dapat membawa manfaat untuk kita semua dan bisa menambah wawasan kita semua.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Yatimin. 2006. Studi Ilmu Kontemporer. Jakarta: Amzah
Hakim, Tatang Abdul dan Jaih Mubarok. 2009. Metodologi Studi Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Naim, Ngainun. 2009. Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: Teras
Nata, Abuddin. 2009. Metodologi Studi Islam. Ed. Revisi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
____________, dkk. 2005. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Yusuf, Ali Anwar. 2003. Studi Agama Islam untuk Perguruan Tinggi UmumI. Bandung: CV Pustaka Setia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Comments